Masjid Cheng Hoo Buktikan Indonesia Pancen Houye

20 Jan 2011

masjid-chengho-pandaan

Masjid Muhammad Cheng Hoo di Pandaan Pasuruan

Dalam sebuah perjalanan dari Malang ke Surabaya, saya bersama rombongan mampir di Masjid Muhammad Cheng Hoo (Zheng He) di Pandaan. Saat turun dari mobil, seorang teman tiba-tiba berkata: Lho, kita kok turun di Klenteng? tanya dia. Ini masjid bro, namanya Masjid Muhammad Cheng Hoo. Di Jawa Timur ini, ada satu di Pandaan, satunya lagi ada di Surabaya. Kata saya. Sejurus kemudian, semua pandangan mata melihat dan mengagumi keindahan Masjid tersebut.

Wah, unik bukan? Jika anda sendiri yang melihat Masjid Muhammad Cheng Hoo, apa sih yang terlintas? Betul sekali! Sangat indah. Kubahnya penuh dengan ornamen China yang khas. Oh iya, cobalah tengok lagi lebih ke dalam. Anda pasti juga akan tercengang, karena menemukan suatu hal yang berbeda dari pada masjid lainnya di Indonesia.

Dari hal yang berbeda itu, yang paling menonjol adalah adanya bedug dan mimbar. Mengapa kok begitu? Sebab, kalau masjid ada bedug, biasanya gak pakai mimbar (meja podium) untuk khutbah jumat. Sebaliknya, kalau masjidnya pakai mimbar, biasanya gak punya bedug.

Bedug, sebuah alat pukul penanda datangnya waktu shalat, biasa dipakai oleh masjid dari kalangan NU, organisasi Islam terbesar di Indonesia. Sedangkan mimbar (podium) khutbah jumat biasa menjadi identitas masjid dari kalangan Muhammadiyah, organisasi Islam terbesar kedua. Bahkan, saya melihat beberapa konstruk dan ornamennya seperti perpaduan dengan ornament lokal, yaitu Jawa.

Nah, sekarang anda bisa bayangkan, betapa terbukanya masjid ini. Konstruks, ornamen serta semua perlengkapannya seakan menggambarkan ruh Islam, Indonesia, dan China itu sendiri. Kayaknya, Masjid Muhammad Cheng Hoo dibangun dengan tidak menafikan nilai-nilai kearifan lokal, di samping tentu nilai Islam sebagai dasarnya.

Hebat! Mengapa saya katakan demikian? Karena saya melihatnya sebagai jejak emas betapa Indonesia pancen houye. Lho, apaan tuh? Mungkin para sobat sama bingungnya dengan saya saat pertama kali menyebut atau membaca istilah ini. Namun, dari berbagai sumber terekam di Google.com yang saya dapatkan, kata pancen berarti memang Sedangkan houye berarti oke. Sepertinya, istilah ini serapan dari bahasa Jawa. Nah, sekarang, sobat bisa ngerti kan Kalau salah, tolong saya dikoreksi lho..he he he:-)

Oh iya, memang ada banyak bukti-bukti Indonesia bisa disebut pancen houye. Soal penggunaan internet dan kemajuan teknologi komunikasi di Indonesia, misalnya. Indonesia dan China hampir seiring. Namun, tanpa menafikan kondisi tersebut, saya lebih melirik kehadiran Masjid Muhammad Cheng Hoo sebagai representasi nilai kearifan relasi Islam, Indonesia dan China. Karenanya, ia merupakan salah satu bukti terpenting Indonesia pancen houye. Setidaknya, ada dua alasan mengapa saya katakan begitu, yaitu:

  1. surabayaportrait_021Ikatan spiritual. Ingat sobat! Mayoritas penduduk di Indonesiaadalah muslim. Sementara, komunitas muslim di China juga tak terbilang sedikit. Bahkan, Laksamana Muhammad Cheng Hoo yang kemudian diabadikan sebagai namanmasjid adalah seorang muslim yang taat. Karenanya, namanya diabadikan di sebagai nama Masjid tersebut. Coba anda bayangkan, kalau tidak Indonesia tidak houye, mana mungkin Laksamana Muhammad Cheng Hoo sampai ke Indonesia. Iya enggak? Bahkan berbagai jejak hidupnya di Indonesia menunjukkan, mungkin saja beliau lebih Indonesia dari pada ke-Indonesiaan kita. Selain itu, Nabi Muhammad Saw, juga pernah bersabda, tuntutlah ilmu meskipun ke negeri China. Nah, di sini pasti ada rahasianya, mengapa China. Jelasnya, arsitektur Masjid Muhammad Cheng Hoo memberikan nuansa kebersamaan. Nah, pas sekali bukan? karena masjid sebagai tempat ibadah umat muslim memandang sama semua jamaahnya. Allah tidaklah melihat, bagaimana perbedaan warna kulit, ras, status sosial, dan lain-lain. Kecuali, bagaimana taqwa tidaknya seseorang. Demikian pula Masjid Muhammad Muhammad Cheng Hoo. Semuanya ada, tidak memandang ini dari komunitas NU atau Muhammadiyah, juga tak memandang ini orang Indonesia atau China. Semua menyatu dan bersimpuh di dalamnya, sama sebagai hamba Allah, yang cuma mengharap ridho-Nya semata.
  2. Gus Dur

    Gus Dur

    Kesamaan kultur. Lho, kok bisa? Mungkin banyak sobat yang tidak menyadari, kalau sebagian nenek moyang kita ternyata juga berasal dari China. Sebut saja, almarhum mantan Presiden Gus Dur (KH.Abdurrahman Wahid). Ternyata, beliau adalah keturunan China. Bahkan, mungkin juga mbah buyut (nenek moyang, Jawa red) kita sebagian besar berasal dari China. Makanya, tidak menutup kemungkinan banyak tradisi yang mirip. Sebut saja misalnya kemiripan Barong di Bali, Barongnya Reog Ponorogo dan Tarian Barongsai China. Pantas saja, kalau kemudian Patrialis Akbar, Menkumham, mengatakan bahwa Indonesia people had felt the greatness of Chinese Islamic culture. We live in the same world. Thus, we are a family. Pernyataan, yang disampaikan pada acara China-Indonesia Islamic Cultural Expo and Art Show 2010 di Jakarta (sumber: Xinhua, via People’s China Daily Online), itu berbalas senada dengan pernyataan Guangyuan. Direktur China Islamic Association itu mengatakan bahwa the event was a milestone in the friendship and communication between Chinese and Indonesia Muslims.

Nah, sahabat yang baik hati! Bukankah Indonesia pancen houye [mt] ;-)


TAGS masjid Muhammad Cheng Hoo Gus Dur China Indonesia pancen houye kearifan lokal


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post